May 27, 2026

FILOSOFI TERAS

“Filsafat Yunani-Romawi Kuno Untuk mental Tangguh Masa Kini”
BAB 6 “Memperkuat Mental”
Oleh HENRY MANAMPIRING

  1. Kekhawatiran dan Kecemasan kita lebih banyak yang akhirnya tidak terjadi.berarti kita sering merasa cemas tentang hal-hal yang sebenarnya tidak akan terjadi.
    • Kebanyakan kekhawatiran kita hanyalah hasil dari imajinasi kita dan tidak berdasar pada kenyataan, menyebabkan stres yang tidak perlu. Filosofi Stoa mengajarkan untuk fokus pada apa yang bisa kita kendalikan dan mengembangkan ketenangan dalam menghadapi ketidakpastian, sehingga kita bisa hidup lebih tenang dan bijaksana.
    • Contoh: Pada saat kita ujian, kita khawatir dan cemas terhadap ujian dan nilai yang akan diberikan oleh dosen atau guru, padahal kita bisa untuk lebih fokus ke diri sendiri dengan cara menguasai dan memahami materi yang akan diujikan.
  2. Premeditatio malorum adalah Teknik memperkuat mental dengan membayangkan semua kejadian buruk yang mungkin terjadi di hidup kita di hari ini dan kedepannya.
    • Premeditatio malorum adalah teknik dalam filosofi Stoa untuk memperkuat mental dengan membayangkan semua kejadian buruk yang mungkin terjadi di masa depan. Dengan membayangkan skenario terburuk, kita dapat mempersiapkan diri secara emosional dan mental, sehingga lebih siap menghadapi kenyataan dan mengurangi kecemasan akan ketidakpastian.
    • Contoh: Sebelum presentasi, bayangkan berbagai hal yang bisa salah, seperti laptop yang tiba-tiba mati, file presentasi yang rusak, atau pertanyaan sulit dari audiens. Dengan membayangkan skenario ini, Anda dapat mempersiapkan langkah-langkah pencegahan seperti membawa cadangan flash drive, mencetak salinan presentasi, atau mempelajari materi lebih dalam untuk menjawab pertanyaan sulit. Solusi : Dengan mempersiapkan diri untuk hal-hal ini, Anda akan merasa lebih tenang dan siap menghadapi kemungkinan tersebut.
  3. Hubungan kita dengan rezeki adalah “pengguna” atau “peminjam”, kita harus selalu siap ketika segala rejeki dan keberuntungan kita diminta kembali oleh Dewi Fortuna (Tuhan).
    • Makna dari pernyataan ini mengajarkan kita untuk tetap rendah hati, bersyukur atas apa yang kita miliki saat ini, dan tidak terlampau terikat pada materi atau keberuntungan. Selain itu, kita juga harus selalu siap dan tabah menghadapi situasi ketika rezeki atau keberuntungan yang kita miliki hilang atau berkurang. Sikap ini membantu kita untuk lebih bijak dalam mengelola rezeki dan keberuntungan serta tetap bersikap optimis dan positif dalam segala keadaan.
    • Contoh : Bencana alam seperti gempa bumi, banjir, atau kebakaran hutan dapat menghancurkan harta benda seseorang dalam sekejap. Sebuah keluarga yang memiliki rumah dan harta benda yang berlimpah bisa kehilangan semuanya dalam hitungan jam atau bahkan menit. Ini menunjukkan bahwa apa yang kita miliki adalah pinjaman yang bisa diambil kembali kapan saja oleh keadaan yang tak terduga.
  4. Ada banyak hal-hal negatif dalam hidup ini yang sebenarnya remeh dan tidak perlu dibesar-besarkan(“ketimun pahit”)
    • “timun pahit” ini mengajarkan bahwa dalam hidup, ada banyak hal-hal negatif yang sebenarnya remeh dan tidak perlu dibesar-besarkan. Istilah “ketimun pahit” merujuk pada masalah kecil atau ketidaknyamanan yang sering kali kita hadapi, tetapi tidak seharusnya menjadi fokus utama atau merusak kebahagiaan kita.
    • Contoh : Seseorang menerima komentar negatif tentang penampilannya atau hasil kerjanya di media sosial. Pelajaran: Alih-alih merasa terluka atau marah, orang tersebut bisa memilih untuk mengabaikan komentar yang tidak konstruktif dan fokus pada hal-hal yang lebih penting, seperti pengembangan diri atau dukungan dari orang-orang yang menghargainya.
  5. Saat kita mendapat musibah besar dan kecil, bayangkan bagaimana kita akan bersikap jika ini menimpa orang lain.
    • Pernyataan “Saat kita mendapat musibah besar dan kecil, bayangkan bagaimana kita akan bersikap jika ini menimpa orang lain” berarti ketika kita menghadapi masalah atau kesulitan, kita harus mencoba melihat situasi dari perspektif luar. Dengan membayangkan bagaimana kita akan menasehati atau menghibur orang lain yang mengalami situasi serupa, kita bisa menemukan cara yang lebih objektif dan tenang untuk menghadapi masalah kita sendiri. Teknik ini membantu kita untuk tidak terlalu terbawa emosi dan bertindak lebih bijaksana.
    • Contoh: Dalam dunia perkuliahan sering terjadi kesulitan dalam membayar uang kuliah sehingga menghambat perkuliahan.Hal tersebut disebabkan karena keterbatasan ekonomi atau faktor lainnya. Jika hal ini menimpa orang lain sebagai manusia kita harus merasa empati dan saling mendukung atau pun sebaliknya
  6. Orang yang bener-bener kaya adalah dia yang merasakan cukup. Orang yang benar-benar miskin adalah dia yang masih menginginkan lebih. 
    • Orang yang sungguh kaya adalah mereka yang memiliki kesadaran untuk merasa puas dengan apa yang mereka miliki saat ini. Mereka mampu menemukan kebahagiaan dan kepuasan dalam hal-hal sederhana dan tidak terus-menerus tergoda untuk mengumpulkan lebih banyak harta atau kekayaan material. Di sisi lain, orang yang sebenarnya miskin adalah yang selalu merasa tidak pernah memiliki cukup. Meskipun mereka memiliki banyak harta atau materi, mereka tetap merasa tidak puas dan terus-menerus mengejar keinginan yang lebih besar, tanpa pernah menemukan kedamaian atau kebahagiaan yang sejati.
    • Contoh : merasakan cukup adalah ketika dia merasa puas dengan kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan dasarnya, seperti makanan, tempat tinggal, dan pendidikan. Meskipun dia menyadari bahwa masih ada banyak hal yang bisa ditingkatkan, dia bersyukur atas apa yang telah dicapai dan tidak terlalu tergoda untuk mengukur kebahagiaan atau keberhasilannya berdasarkan pada materi atau prestasi eksternal. Di sisi lain, contoh dari mahasiswa yang masih menginginkan lebih adalah ketika dia terus-menerus membandingkan dirinya dengan orang lain, menginginkan prestasi yang lebih tinggi, atau merasa tidak puas dengan apa yang telah dicapai. Meskipun dia mungkin telah mencapai banyak hal, dia tetap merasa kurang dan terus-menerus mencari kepuasan di luar dirinya.
  7. Amor Fati: “Cintailah nasib apa yang telah terjadi dan sedang terjadi saat ini”
    • Contoh : Sebagai contoh untuk seorang mahasiswa, bayangkan jika seseorang mengalami kegagalan dalam ujian besar. Alih-alih meratapi kegagalan tersebut atau terjebak dalam rasa putus asa, dia memilih untuk menerima nasibnya dengan penuh kasih sayang. Dia memanfaatkan kegagalan tersebut sebagai kesempatan untuk mengevaluasi kembali metode belajarnya dan mencari tahu di mana dia bisa memperbaiki diri. Dia mungkin menyadari bahwa kegagalan adalah bagian alami dari proses pembelajaran dan bahwa melalui kegagalan, dia bisa tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat dan lebih tangguh. Dengan sikap ini, dia dapat menghadapi tantangan belajar selanjutnya dengan lebih tenang dan lebih termotivasi, tanpa terbebani oleh rasa malu atau ketakutan akan kegagalan.

Departemen Kastrat

Kabinet Orchestra 23/24